Sunday, May 22, 2011

ISSU

Malam itu saat saya bersama sekelompok komunitas fans club di bilangan pasar lama bulukumba, sambil ngrumpi bercerita ngalor ngidul yang diselingi canda dan tawa, tiba-tiba kami dikagetkan dengan suara berisik yang berasal dari atap rumah seorang warga, serentak mata kami pun tertuju pada sumber suara, terlihat seorang pemuda dengan ekspresi ketakutan berusaha mencari ruang agar bisa turun dari atap rumah tersebut, warga yang menyaksikan pemandangan yang tak lazim tersebut seolah telah menerima komando untuk meneriakinya maling, dengan raut wajah memohon penuh harap sang pemuda berusaha membela diri untuk meyakinkan warga bahwa dia bukanlah maling setelah pemuda tersebut turun dari atap rumah, warga seolah telah memastikan kalau dia adalah maling, pukulan demi pukulan pun tak terelakkan lagi. Seperti kata pepatah “jatuh tertimpa tangga”, ternyata pemuda tersebut adalah seorang karyawan yang hendak kabur akibat tertekan oleh majikannya namun naas menimpanya.
Persoalan pelanggaran yang dilakukan majikan pada karyawannya bukan menjadi titik perhatian saya pada saat itu, namun yang saya tak habis pikir adalah karakter sebahagian warga saat itu, sebab yang banyak memukuli pemuda tersebut adalah orang lewat yang singgah hanya sekedar ikut memukul tanpa tahu masalahnya, entah karena mendengar bahwa dia adalah maling atau hanya menjadikan ajang latihan memukul, sungguh menyedihkan.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa karakter sebahagian masyarakat yang tanpa filter dalam mengkonsumsi sebuah informasi dan tanpa konfirmasi ketika mendengar issu harus diluruskan, sebab karakter tersebut tidak hanya terjadi saat seperti pada cerita di atas tapi juga pada issu issu politik dan sosial, dalam perbagai macam momentum politik issu pembunuhan karakter tak terhindarkan yang kemudian dikonsumsi mentah-mentah oleh masyarakat, entah sebatas ikut-ikutan atau memang tidak punya ilmu untuk itu, munkin ini yang dimaksud al-farabi sebagai masyarakat kurang sempurna (al mujtama’ ghair al-kamil) yaitu masyarakat yang tidak bisa mengatur dan membawa dirinya pada keutamaan tertinggi.
Dalam momentum politik, lagi-lagi masyarakat awam akan selalu mengikut pada masyarakat intelektual melalui polarisasi gerakan strategis dan pengelolahan issu yang rasional sehingga tercipta dogma dan hegemoni dalam bingkai kepentingan politik yang menjadikan masyarakat sebagai objek, berangkat dari minimnya pendidikan politik masyarakat akan menhantarkan pada kejenuhan dengan berbagai macam formulasi sehingga muncul rasa antipati bahkan mosi tidak percaya pada pelaku politik akibat sekayasa politik yang berlarut dan berakhir pada penderitaan terhadap rakyat yang tidak berdosa dan tidak tahu berpolitik.
Hal yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa hal ini semua terjadi? Siapa yang salah? Jangan-jangan ini adalah proses kematangan berdemokrasi? Atau mungkin karena cita-cita politik yang salah dari para penguasa? Atau memang masyarakat yang bodoh?
Apa pun itu, menjadi tugas kita sekalian adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat agar selalu mengadepankan etika sosial dan tidak lagi dengan mudah terkontaminasi dengan issu yang tidak jelas sumbernya, sebab islam pun jauh hari telah memaparkan melalui Al-Qur’an bahwa “ ketika datang pada kalian seseorang yang fasiq dengan sebuah berita maka perjelaslah terlebih dahulu”
Ketika dialog masih merupakan cara yang manusiawi untuk menyikapi isu, justru banyak dari kita yang mendahulukan tindakan “kacangan” lainnya, dialog memang bukan cara ampuh, tetapi dialog merupakan cara yang paling masuk akal sebelum bertindak lebih jauh menyikapi isu. Isu tidak hanya selesai ketika berdialog antara 1-2 jam saja. Harus ada konsistensi dalam meluangkan waktu untuk dialog.
Itu saja. Saya menyarankan agar dialog menjadi jalan pertama yang diambil ketika menyikapi isu. Siapa yang tidak mau berdialog, dialah orang yang paling tidak bisa menyikapi isu. Dengan kata lain, orang itu belum berbudaya.
Wallahu a’lam bisshawab..