Tuesday, March 8, 2011

CALON PEMIMPIN (DARI) DAERAH

Oleh Armin Mustamin Toputiri
Setiap kali ke Jakarta dan bertemu kawan-kawan lama sesama mantan pengurus pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI), maka setiap itu pula mereka mengingatkan saya pada sejumlah kata-kata yang dulu pernah saya ucapkan dalam diskusi-diskusi kecil diantara kami. Kawan-kawan ini menilainya sebagai pernyataan ”nakal” khas manusia Bugis-Makassar. Mengandung gugatan, tapi kata kawan-kawan menilai penuh makna dan sedikit ”bertuah”. Artinya menarik untuk diperdebatkan dan didiskusikan lebih lanjut. Padahal setau saya, pernyataan-pernyataan itu meluncur apa adanya, sesuai logika atas realitas yang saya pahami.

Dan pada siang hari ini, di Kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta. Kawan-kawan lama itu ada di sini, berkumpul lagi untuk mengambil peran atas suatu hajatan pertarungan politik praktis dalam waktu dekat. Sekali lagi kawan-kawan ini --- sebagian pula diantaranya bergabung sejumlah adek-adek pengurus DPP KNPI periode yang sedang berjalan sekarang ini --- kembali mengingatkan beberapa penggalan-penggalan kata yang dulu pernah saya ungkapkan. Saya heran, karena sebagian diantara banyak kawan ini, ada juga yang masih tetap mengingat-ingatnya. Sementara saya nyaris sudah melupakannya.

***

Serasa susah memang hidup di kota besar, seperti Jakarta ini, sebagaimana konsekuensi dari kemajuan dan kepadatan penduduk, maka tak ada lagi lahan --- tanah kosong --- yang bisa diolah untuk mencari nafkah buat makan. Apa jadinya terjadi, manusia sesama manusia saling mengolah. Itu hakikat sebuah kota. Selalu berbasis pada jasa. Maka orang-orang di kota-kota besar, termasuk Jakarta ini, orang lebih tunduk dan hormat pada siapa yang memiliki modal kuat. Dengan itu ia bisa membeli segala-galanya. Maka harga diri pun kadang sulit terjaga. Kalau tak punya potensi dan kompotensi sebagai modal transaksionil, maka diri dan harganya pun kadang halal dijual buat makan”.

Kalau pernyataan saya di atas coba dicermati, sebenarnya suatu yang sifatnya linier saja, sudah demikianlah kerangka konstruktif kehidupan di kota sebagaimana normalnya. Sehingga sebaliknya juga terjadi kehidupan di daerah, desa dan kampung-kampung yang belum maju: ”Sebagai orang yang berdomisili di Makassar misalnya, sebuah kota yang sedang bergerak merangkak maju, masihlah tersedia lahan tanah kosong yang cukup untuk diolah sebagai biaya makan. Maka ketergantungan kami orang-orang daerah pada pemilik modal belumlah sampai di situ. Karena lahan adalah olahan sumber kehidupan buat makan, maka kami orang-orang daerah akan sangat jauh lebih tunduk dan hormat pada tanah dan alam raya ini. Dan bukan atau belum sampai ketundukan pada pemilik modal”.

***

Penggalan kalimat di atas, itulah diantaranya yang dulu pernah saya ucapkan dalam suatu kali diskusi kecil-kecilan bersama kawan-kawan, ketika masih terlibat sebagai pengurus DPP KNPI, yang berakhir setahun lalu. Dan siang ini di Kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta, dengan riuhnya kembali diperbincangkan oleh kawan-kawan ini, diselingi gurauan-gurauan riuh renyah penuh persahabatan sebagai sesama kawan lama. Dan saya berkali-kali menangkis gugatan kawan-kawan ini , juga dengan sedikit bercanda pula. Tapi ternyata apa kata kawan-kawan ini, bahwa tangkisan saya justru mencipta lahirnya gugatan baru. Menarik untuk dilanjutkan pada perdebatan dalam pertemuan-pertemuan berikut, dan selanjut-selanjutnya.

Apa kata saya: ”Kalaupun kawan-kawan ingin hidup di Jakarta ini tanpa potensi sebagai modal transaksionil dengan para pemilik modal, dan terus ingin bertahan dengan kondisi demikian, maka saya tidak akan pernah percaya, di kota-kota besar macam Jakarta ini, kelak akan melahirkan pemimpin masa depan yang memiliki integritas dan karakter yang kuat. Dan kalau demikian terjadi, jangan salahkan kalau Indonesia masa depan, akan dipimpin oleh kami-kami ini yang lahir dan bertumbuhkembang di daerah. Dan pemimpin-pemimpin baru dari daerah ini, bisalah dijamin masih memiliki integritas dan karakter yang kuat. Selain karena lebih hormat pada tanah dan alam raya, juga belum tunduk hormat kepada para pemilik modal”.

***

Mendengar pernyataan saya kali ini, riuh tawa dan canda kawan-kawan --- serta sebagian adek-adek yunior --- sekejap menghilang. Sunyi senyap. Mereka memandangi wajah saya dengan sangat tajam, sambil terangguk-angguk. Masih dengan kondisi seperti itu, saya pun menarik koper untuk bergegas ke Bandara, kembali ke Kota Makassar tempat dimana saya berdomisili setelah sekian puluh tahun. Saya menyalami dan berpelukan satu persatu kawan-kawan seperjuangan ini. Saya minta pamit meninggalkan kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta. Sebuah kamar mewah yang disiapkan cuma-cuma oleh salah satu pemilik modal terkemuka Indonesia saat ini, bahkan masuk katagori lima besar terkaya di Asia, yang dalam waktu dekat juga akan memasuki arena pertarungan politik praktis tingkat tinggi.

Di atas udara dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan laut, di seat kursi 28-F, penerbangan Batavia Air, Jakarta menuju Makassar, saya mengenangkan kembali kelakar dan kebaikan-kebaikan kawan seperjuangan --- serta sejumlah adik-adik --- saya yang sangat baik itu. Dari balik saku jaket kulit ”cakar” (”cap karung”, istilah lain di Sulawesi Selatan untuk ”Pakaian Impor Bekas”) yang saya kenakan, saya menarik handphone Nokia comunicator, lalu saya menuliskan kisah perkawanan yang berisi dan penuh makna yang sepertinya sulit untuk dilupakan. Setidaknya dengan menggoreskannya dalam bentuk tertulis --- seperti yang Anda baca sekarang ini --- kalau bukan sekarang ini, mungkin kelak kemudian hari akan memiliki pengertiannya tersendiri. Tergantung pada cara kita masing-masing memaknainya.

Saya ingin menutup goresan-goresan di atas pesawat ini, dengan salah satu cerita lucu, nyinyir dan menggelitik, yang dulu pernah diungkapkan salah satu diantara kawan-kawan terbaik saya ketika masih terlibat sebagai pengurus DPP KNPI, dulu. Cerita ini begitu berkesan sehingga tersimpan dengan rapi dalam memori ingatan saya, bahkan pernah saya tuliskan pada Beranda FB saya (15/8/2009).

Kisahnya adalah suatu ketika di tepi jalan, Presiden RI menemukan sebuah botol yang tertutup rapi. Diambilnya lalu tutupnya dibuka. Maka keluarlah asap menebal, lalu menjelma jadi Jin Raksasa. "Tuan telah membebaskan saya. Silahkan minta apa saja, pasti akan saya kabulkan". Presiden RI: "Saya hanya minta dibantu agar seluruh utang-utang Indonesia di luar negeri dapat dilunasi”. Sang Jin pun berpikir sejenak, geleng-geleng kepala, lalu jasadnya loncat kembali masuk ke dalam botol. "Tuan... tolong botolnya ditutup kembali!".

No comments:

Post a Comment