Tuesday, March 8, 2011

PILKADA YANG MAKIN TAK DIMINATI

Pilkada, baik pemilihan bupati dan gubernur, terasa makin tidak diminati, kecuali oleh para calon-calonnya sendiri. Angka golput terus meninggi dan siapapun yang terpilih akansemakin kehilangan legimitasi Pemenang itu jaditidak benar-benar juara karena dipilih oleh sedikit suara dangolput itulah sering kali pemenang yangsesungguhnya. Maka pemimpin hasildemokrasi sekarang ini, dengan begitu banyak partai,dengan begitu banyak calon, cuma akan menghasilkan pemimpin yang dipilih oleh minoritas. Dan yang minor ini, tiba-tiba harus memimpin yang mayor. Itulah kenapa demokrasi model Indonesia ini membawa bermacam-macam persoalan yang tak pernah terbayangkan.



Pertama, menjadi begini rendah apresiasi kita kepada para pemimpin. Karena siapapun yang ada di sana, akan ditatap darisini dari sudut pihak lain. Meksipun engkau ada di situ, engaku bukanlah partaiku dan aku tidak memilihmu. Engkau boleh membuat keputusan, tetapi kami yang di sini bisa pula menolak dan menggugurkan. Begitulah komposisi pemerintahan saat ini. Sibuk tarik-menarik dengan dirinya sendiri.



Apa akibatnya? Pertama adalah kemerosotan simbol-simbol negara. Inilah era ketika seorang kepala negara sedang berpidato bisa ditinggal tidur oleh pendengarnya. Ketiduran, sebutannya, tetapi ini pasti bukan cuma soal mata yang mengantuk. Ini soal kenapa mata di zaman demokarsi sekarang ini, tidak cukup mendapat stimulan tepat ketika presidennya sedang berbicara. Ya, karena seorang Presiden di era ini, tidak cuma ditatap sebagai simbol negara, tetapi juga sebagai pihak dari partai yang berbeda. Inilah era, ketika pemimpin terpilih tidak selaludianggap mereprentasikan kedaulatan rakyatnya.



Tetapi apakah sebetunya simbol itu, dan darimana kekuatannya sebagai simbol itu meng-ada. Simbol itu semula pasti bukan soal jumlah, tetapi nilai. Sesuatu yang bernilai adalah sesuatu yang akan men-jumlah dengan sendirinya. Jadi krisis politik itu, masih akan menemukan obatnya jika kita tidak krsisis nilai. Di sebuah pertengkaran di tingkat apa saja, mulai dari tingkat kampung hingga negara, sama subtansinya: sebuah kepelikan akan menjadi sederhana jika di tengahya masih ada rasa hormat dan segan.



Keruwetan politik di Indonesia ini, tidak cukup hanya diselesaikan dengan aturan-aturan. Kemajuan peraturan tenapa diiikuti oleh kemajuan nilai, ia hanya berakhir pada soal yang sama; pelanggaran-pelanggaran. Mari bersama mejadi bernilai, maka seluruh soal yang tampaknya ruwet ini, pastiakan menjadi sederhana!

No comments:

Post a Comment