Oleh armin mustamin toputiri
Mengisi masa liburan ketika di kampung dulu, paling asyik memilih menyeberang ke Tana Toraja. Paling mengasyikkan lagi ketika berada di bumi ”tondok lili’na lepongan bulan tana matari’ allo” (negeri sebulat bulan purnama tanah yang bersinar bagaikan matahari) ini, jika bertepatan dilangsungkan Pesta Adat Kematian (rambu solo) yang oleh orang Toraja dianggap sangat sakral sebagaimana ajaran ”aluk todolo” (ajaran nenek moyang) yang dijunjung tinggi sebagai bingkai peradaban masyarakat Toraja untuk mengabdi pada Puang Matua.
Pada upacara ”rambu solo” selain kegiatan ritual keagamaan, berbagai ragam budaya dipertontonkan secara meriah. Satu diantara yang menarik ditonton adalah pesta ”mapasilaga tedong” (adu kerbau). Menariknya karena kerbau bagi masyarakat Toraja memiliki harkat tersendiri. Selain menurut ajaran aluk todolo bahwa kerbau adalah benda bernyawa bernilai keagungan untuk menghantarkan leluhur menuju alam akhirat, selain itu dalam beberapa puluh tahun terkhir, kerbau dijadikan simbol status sosial, sebagaimana saat acara ”mappasak tedong”.
Diantara ragam jenis kerbau di Tana Toraja, dibedakan pada bentuk fisiknya, khususnya pada bagian tanduk dan warna kulit, yang menunjukkan karakter dan nilainya masing-masing, sekaligus menunjukan status sosial pemiliknya. Dari sisi warna kulit: belang-belang (bonga), hitam (pudu), dan abu-abu kecoklatan (sambao’). Dari segi bentuk tanduk; tarangga (keluar membentuk setengah lingkaran), pampang (keluar melebar panjang). sikki’ (mirip tarangga namun ujungnya merapat nyaris bertemu), sokko (menghadap ke bawah nyaris bertemu di bawah leher), serta tekken langi’ (satu tanduk arah ke bawah dan satu lagi arah ke atas).
***
Belakangan setelah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman dan bermukim di Makassar, praktis sudah sangat jarang lagi bisa menghadiri upacara ”rambu solo”, dan tentu sudah sangat jarang pula bisa menyaksikan seru dan meriahnya pesta ”mapasilaga tedong”. Beruntunglah karena belakangan ini ikut terlibat dalam politik praktis, sehingga dari arena inilah kembali bisa disaksikan pertarungan politik, yang tidak kalah mengasyikannya dari tontonan pertarungan ”tedong silaga”, --- meski tidak ada maksud mau mempersamakan keduanya --- dimana kesemuanya juga tampil dengan performa kecirian dan karakternya masing-masing.
Di Tana Toraja ada tiga jenis kerbau paling diandalkan memasuki gelanggang pasilaga tedong. Masing-masing memiliki karakter bertarung dan kekuatan hampir seimbang, sehingga menampilkan tontonan berkualitas. Kerbau pertama,”Tedong Balian” yaitu kerbau yang sudah dikeluarkan buah pelernya agar model tanduknya panjang dan proporsional. Jenis kerbau ini, jika memasuki gelanggang pertarungan menggunakan strategi bertahan catenaccio (pertahanan gerendel), mengandalkan permainan bersih melalui serangan balik. Kekuatannya berada pada sepasang kaki belakang sebagai tumpuan untuk mendorong tubuhnya ke depan, sedang sepasang kaki depan sebagai penjelajah dalam mencari posisi yang tepat untuk menanduk lawannya.
Jenis kedua adalah ”Tedong Pudu”, yaitu kerbau berbadan kekar dan kulitnya berwarna hitam. Kerbau yang memiliki nilai jual cukup tinggi ini, sebaliknya justru memiliki karakter menyerang. Tetapi metode penyerangannya terukur secara efektif dan efisien dengan disiplin tinggi. Kedua pasang kakinya, di muka dan belakang, digerakan secara simultan, sehingga menunjukkan irama kombinasi serangan yang indah. Sementara kerbau ketiga adalah ”Tedong tanduk tarangga”, yaitu memiliki tanduk keluar membentuk setengah lingkaran. Karakter kerbau jenis ini diandalkan selain karena serangannya frontal, juga karena semangatnya tinggi. Prinsip dianut jenis kerbau ini, menyerang adalah modal kemenangan, daripada bertahan sama sekali.
***
Sesengit bagaimanapun pertarungan pasilaga tedong, tidaklah pernah berubah wujud menjadi ”perselisihan”. Semua tetap menghormati bahwa pasilaga edong hanyalah sebatas permainan dan kemeriahan tontonan sebuah pesta demokrasi” adat tradisi. Orang Toraja diikat prinsip ”penggarontosan”, saling enghargai hubungan sesama manusia ”sipakaele-disirapai”, yang dilandasi emangat ”kombongan”, yaitu nilai-nilai musyawarah untuk bersatu padu. Misa kada dipotuo pantan kada dipomate” (Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh). Sekalipun ada diantara kerbau yang unggul dari kerbau yang lain, tetapi semuanya bersuka cita karena mereka merasakan kebahagiaan telah ikut andil sebagai kurban sembelihan untuk dipersembahan ke altar mengiringi kepergian leluhurnya ke alam baqa.
Ciri khas dan karakter yang menjadi keunggulan masing-masing kerbau, akhirnya sudah tidak bernilai apa-apa lagi setelah pertarungan usai, karena pasilaga tedong tidak mengenal “menang-kalah”. Sendirinya nafsu dendam dan syahwat saling “menghabisi” juga tidak pernah ada. Seluruh pemilik kerbau lebur jadi satu, bersuka cita dalam riuhnya pesta kematian yang harusnya diratapi dengan tangisan itu, karena semua menyadari bahwa kematian pada akhirnya juga menjadi giliran mereka. Ajaran ”aluk todolo” mengingatkan bahwa semua yang bernyawa --- kerbau dan manusia --- juga akan mati tanpa membawa kemenangan, kekuasaan dan harta.
Kenyataan ini mengingatkan pada kisah menantu Rasululllah, Ali bin Abi Thalib yang telah memenangkan pertarungan duel dengan seorang musuhnya. Musuh berhasil dibanting dan tersungkur ke pasir, dalam waktu sekejap ujung pedang Ali sudah terhunus di leher musuhnya. Tetapi musuhnya masih sempat juga meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, kemudian pergi meninggalkan musuhnya yang terlentang di pasir. Padahal jika Ali mau, hanya sekali sabetan saja leher musuhnya bisa ia penggal. Alasan Ali sangat sederhana; “Saya tidak mau pedang saya digerakkan oleh dendam dan amarah karena dia telah meludahi muka saya”.
Sumber: Harian Fajar, Makassar, 29 Januari 2008

thanks infonya.....
ReplyDelete